nGeJurnal, nYok…

verba volant, scripta manent…

Model Komunikasi

leave a comment »

Definisi komunikasi dapat digambarkan dengan model berikut:

Model Komunikasi

Model Komunikasi

Dari skema tersebut, definisi komunikasi dapat disimpulkan menjadi 8 prinsip, yaitu:

  1. Proses penyampaian dan penerimaan
  2. Pesan yang terdistorsi oleh noise
  3. Dari komunikator kepada komunikan
  4. Melalui saluran media tertentu
  5. Dengan tujuan tertentu
  6. Sehingga menimbulkan efek-efek tertentu
  7. Dan ada kesempatan untuk melakukan feedback
  8. Yang terjadi pada suatu konteks tertentu

Adapun ciri khas dari berkomunikasi lainnya adalah:

  • Pesan selalu terdistorsi oleh noise
  • Ada feedback
  • Ada feedforward
  • Ada konteks
  • Menimbulkan efek-efek tertentu
  • Melalui channel-channel tertentu
  • Menggunakan berbagai media yang memungkinkan

Komunikasi sendiri merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Komponen-komponen komunikasi bersifat sistemik, sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Adapun komponen komunikasi sendiri terdiri dari:

  1. Lingkungan (konteks) komunikasi
    Lingkungan merupakan kondisi dan situasi yang memungkinkan komunikasi bisa berlangsung. Hal ini terdiri dari space (tempat), temporal (waktu), sosial-psikologis (orang-orang yang terlibat di dalamnya).
  2. Sumber (source / sender) – Penerima (receiver)
    Sumber adalah individu atau sekelompok orang yang memberikan informasi.
  3. SenderReceiver, Komunikator – Komunikan
  4. EncodingDecoding
  5. Pesan
    Gagasan atau keinginan yang ingin disampaikan.
  6. Saluran dan Media
    Saluran merupakan sarana untuk menyampaikan pesan. Sedangkan media, sarana komunikasi bahwa pesan disampaikan. Contoh saluran adalah sungai, dan contoh media adalah perahu.
  7. Umpan balik (feedback) dan umpan maju (feedforward)
    Umpan balik adalah komunikasi yang diterima dari komunikan. Sedangkan umpan maju adalah umpan balik atau informasi yang bisa diramalkan kemungkinan terjadinya oleh komunikator.
  8. Gangguan
    Gangguan bisa terjadi pada pesan maupun pada komunikator dan komunikan. Meskipun begitu, sebagian ahli tidak memasukan noise dalam proses komunikasi.
  9. Destination / tujuan / goal
    Tujuan bisa disengaja atau bisa tidak disengaja, bisa juga disadari atau bisa tidak disadari. Contoh tujuan komunikasi yang disadari adalah iklan yang bertujuan untuk mempengaruhi.
  10. Efek komunikasi
    Efek komunikasi merupakan pengaruh yang timbul setelah menerima pesan. Biasanya berupa perubahan antara sebelum dan sesudah menerima pesan. Misalnya perubahan pola pikir, pengetahuan, dan pengalaman.
  11. Kompetensi Komunikasi
    Kualitas orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi.

Proses Komunikasi

Pada hakikatnya, proses komunikasi terjadi apabila komunikator dan komunikan membuat makna yang sama. Gagasan yang ingin disampaikan oleh komunikator, bisa diterima oleh komunikan persis sama seperti yang diharapkan. Meskipun begitu, hal ini sulit terjadi.

Komunikasi yang efektif, dirumuskan sebagai berikut:

Komunikasi Efektif (KE) = Komunikator / Komunikan = 1

Angka 1 mencerminkan bahwa yang ingin disampaikan komunikator, sama dengan yang diterima komunikan. Namun, kenyataannya, tidak selalu bernilai 1. Bila lebih dari 1, bisa juga kurang dari 1. Hal inilah yang disebut dengan noise.

Hal ini disebabkan mereka yang terlibat dalam proses komunikasi memiliki latar belakang yang berbeda.

komunikasi efektif = komunikator / komunikan = 1

angka satu mencerminkan bahwa yang ingin dsampaikan komunikator, sama dengan yang diterima komunikan.
kenyataannya, bisa lebih dari 1, bisa juga kurang dari 1. hal ini disebut noise. Proses komunikasi seperti ini, ditunjukan pada gambar berikut.

Proses Komunikasi

Proses Komunikasi

Dalam proses komunikasi, noise menyebabkan informasi dari komunikator tidak dapat diterima sepenuhnya oleh komunikan. Bisa hanya 70 persen, 50 persen, 30 persen, 10 persen, atau tidak sama sekali. Kuantitas informasi yang diterima sesuai dengan irisan informasi yang bisa dipahami oleh kedua pihak, baik komunikator maupun komunikan.

Ketidakutuhan informasi yang diterima oleh komunikan merupakan hal yang wajar pada kejadian nyata. Hal ini terjadi karena beberapa aspek berikut:

  1. Komunikasi hanya bisa terjadi bila terdapat pertukaran pengalaman yang sama antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi (sharing similiar experience).
  2. Jika daerah tumpang tinding (the field of experience) menyebar menutupi lingkaran A atau B dan menuju terbentuknya satu lingkaran yang sama, maka semakin besar terjadi proses komunikasi yang sempurna dan sama.
  3. Namun, jika daerah tumpang tindih semakin mengecil dan menjauhi sentuhan kedua lingkaran atau cenderung mengisolasi lingkaran masing-masing, maka komunikasi yang terjadi sangat terbatas, bahkan besar kemungkinannya gagal dalam menciptakan suatu proses komunikasi yang efektif.
    Contohnya saja dengan masyarakat yang sulit untuk dievakuasi ketika terjadi bencana. Hal ini umumnya disebabkan perbedaan latar belakang dan kebiasaan antara masyarakat dan pemerintah.

Kesulitan Berkomunikasi

Kesulitan dalam berkomunikasi, salah satunya ditentukan oleh frame of reference (latar belakang yang berbeda) dan field of experience (pengalaman yang berbeda). Kedua hal ini, mempengaruhi efektivitas komunikasi.

  • Frame of Reference
    Merupakan bingkai referensi seperti rujukan dan pengetahuan. Disimpulkan juga sebagai latar belakang yang berhubungan dengan pengetahuan, pendapat-pendapat tertentu, dan pendidikan. Misalnya perbedaan pendapat cara penanganan masyarakat di sekitar kawasan hutan antara ahli bidang ekonomi dan ahli bidang ekologi.
  • Field of Experience
    Merujuk pada bidang pengalaman seseorang. Disimpulkan juga sebagai latar belakang pengalaman yang dimiliki oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan berkomunikasi.

Derajat Komunikasi

Dalam berkomunikasi, terdapat derajat perbedaan tertentu yang disebut Derajat Komunikasi. Derajat komunikasi dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

  • Heterophily
    Perbedaan latar belakang orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Perbedaan latar belakang ini ada banyak macamnya. Beberapa perbedaan latar belakang yang umum adalah pendidikan, pengalaman, dan kebudayaan. Semakin besar derajat heterophily, semakin sulit memperoleh kesamaan makna.
  • Homophily
    Derajat kesamaan latar belakang orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Misalnya, berkomunikasi dengan bayi. Orang dewasa akan berusaha menjadi bayi agar bayi dapat menerimanya. Dalam kondisi ini, berkomunikasi dapat dengan mudah dilakukan.
  • Emphatis
    Cara untuk memperkecil perbedaan dalam berkomunikasi dengan berusaha bijaksana bila bertemu dengan orang-orang yang memiliki perbedaan latar belakang. Emphatis juga disebut sebagai kemampuan seseorang untuk memproyeksikan diri pada peranan orang lain sehingga terjadi kesamaan yang diinginkan. Hal ini disebut Strategy of Identification.
    Dalam bahasa yang sederhana, empathis merupakan kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri. Pihak yang harus menyesuaikan diri adalah mereka yang memiliki kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi.
Foto: media-one.vn

Foto: media-one.vn

Mengapa kesamaan yang harus dipentingkan? Bagaimana pun juga, orang memiliki kecenderungan untuk memilih sesuatu yang sama. Sebagai orang komunikasi, harus memiliki kemampuan untuk mendekatkan yang sama dengan kita. Bagaimana pun, inti dari komunikasi adalah membuat sama sehingga orang mau menerima kita.

Berkomunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki latar belakang sama, akan memberi keuntungan sebagai berikut:

  1. Memudahkan proses penyandibalikan (encoding-decoding)
  2. Membantu membangun premis/kesimpulan yang sama
  3. Menyebabkan komunikan tertarik pada komunikator. Contoh: Calon bupati yang memaparkan program-program pengentasan kemiskinan, akan menarik orang-orang yang miskin untuk memilihnya.
  4. Menumbuhkan rasa hormat dan percaya diri pada komunikator

Konteks Komunikasi

Konteks komunikasi terdiri dari 3 dimensi.

  1. Dimensi spasial
    Konteksnya adalah fisik seperti lingkungan nyata atau berwujud/tangible. Dalam hal ini, komunikasi mengharuskan tempat yang nyata. Bila tidak, komunikasi tidak akan terjadi.
  2. Dimensi sosial-psikologis. Konteks ini meliputi latar belakang, kepribadian, sosial, budaya, dan lain-lain. Biasanya, pada dimensi ini perbedaan muncul yang umumnya menyebabkan komunikasi sulit dilakukan.
  3. Dimensi temporal. Dalam hal ini, komunikasi memerlukan konteks waktu.

Written by Yudha P Sunandar

31 October 2010 at 21:49

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: